Home » Karir » Strategi Unik Co-CEO Dropbox Atasi Ketidaksetujuan di Tempat Kerja

Strategi Unik Co-CEO Dropbox Atasi Ketidaksetujuan di Tempat Kerja

Ketidaksetujuan dengan rekan kerja adalah hal yang umum di dunia profesional, terutama ketika rekan tersebut adalah co-CEO. Ashraf Alkarmi, co-CEO , baru-baru ini berbagi pandangannya kepada Business Insider mengenai cara mengatasi perbedaan pendapat di tempat kerja. Menurutnya, ketidaksetujuan adalah bagian yang tak terhindarkan dari setiap pekerjaan.

Alkarmi, yang sebelumnya menjabat di Vimeo dan Meta, bergabung dengan Dropbox pada tahun 2024 sebagai wakil presiden senior dan manajer umum produk inti. Pada bulan Mei, ia menjabat sebagai co-CEO bersama pendiri Dropbox, Drew Houston, dan berencana untuk menjadi CEO tunggal perusahaan di masa depan. “Sejak saya bergabung dengan Dropbox, hubungan saya dengan Drew didasarkan pada , rasa hormat, dan debat,” ujar Alkarmi.

Langkah pertama dalam menghadapi ketidaksetujuan, menurutnya, adalah membangun kepercayaan dan rasa saling menghormati dengan rekan kerja. Ketika fondasi ini terbangun, setiap masukan yang diberikan akan diterima dengan lebih baik, karena orang-orang tahu bahwa niatnya baik.

Namun, membangun kepercayaan saja tidak cukup. Kunci kedua untuk berdebat yang sehat adalah menjadi penyampai kebenaran. “Gunakan fakta, banyak data, dan apa yang Anda percayai,” kata co-CEO tersebut. Ia menjelaskan pentingnya memiliki alasan yang jelas di balik pandangan yang diungkapkan. Komunikasi langsung lebih diutamakan ketimbang menyampaikan ketidaksetujuan secara pasif-agresif.

“Saya percaya pada kejujuran radikal,” tambah Alkarmi. “Miliki kepercayaan dan perhatian, lalu sampaikan secara langsung.” Ia menekankan pentingnya tidak menghindari percakapan sulit, karena momen-momen tersebut sering kali menjadi kesempatan untuk membangun kepercayaan dan rasa saling menghormati.

“Di saat-saat ketika Anda benar-benar menyampaikan sesuatu yang sulit, namun dengan rasa hormat dan perhatian, itu justru membantu membangun roda kepercayaan dan rasa hormat,” ungkapnya.

Meski setelah mengikuti langkah-langkah tersebut, kadang perdebatan tidak menghasilkan kesepakatan di antara kedua belah pihak. Dalam situasi seperti itu, Alkarmi dan Drew Houston mengembangkan sistem untuk mengatasi perbedaan tersebut. Alkarmi menyatakan bahwa ia akan terus menantang suatu ide sampai Houston menggunakan kata kunci tertentu — “final” — untuk menandakan bahwa keputusan telah diambil. Sampai saat itu, diskusi dianggap masih terbuka untuk perdebatan.

Namun, setelah Houston membuat keputusan akhir, ada satu langkah “kritis” yang membuat dinamika ini berfungsi: penuh. Setelah Alkarmi membahas isu tersebut dan menjelaskan alasannya, ia memperlakukan keputusan itu sebagai miliknya sendiri dan berkomitmen untuk membuatnya berhasil.

Alkarmi menegaskan konsep yang dipopulerkan oleh Jeff Bezos di Silicon Valley: “berbeda pendapat dan berkomitmen.” Dalam surat pemegang sahamnya tahun 2016, Bezos menyatakan bahwa bersedia mengambil risiko pada keputusan yang awalnya ditentang dapat “menghemat banyak waktu” ketika rekan kerja tidak dapat mencapai kesepakatan.

Menurut Alkarmi, setelah keputusan diambil, kedua belah pihak perlu sepenuhnya mendukungnya. “Baik itu berhasil atau tidak, itu bukan pendapatnya atau pendapat saya. Itu adalah apa yang pada dasarnya telah kami sepakati bersama,” tutupnya. Pendekatan ini dapat menjadi pelajaran berharga bagi para pemimpin di Indonesia untuk membangun budaya kerja yang lebih sehat dan kolaboratif.


Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *