Home » Teknologi » Suno: Platform Musik AI yang Jadi Mimisan Hak Cipta

Suno: Platform Musik AI yang Jadi Mimisan Hak Cipta

Suno, platform musik berbasis kecerdasan buatan (AI), memiliki kebijakan ketat terkait penggunaan materi yang dilindungi hak cipta. Pengguna dapat mengunggah lagu mereka sendiri untuk di-remix atau menambahkan lirik asli ke musik yang dihasilkan oleh AI. Namun, Suno seharusnya dapat mengenali dan mencegah penggunaan lagu dan lirik milik orang lain. Sayangnya, sistem ini ternyata sangat mudah untuk dibohongi.

Dengan sedikit usaha dan perangkat lunak gratis, Suno dapat menghasilkan tiruan lagu-lagu populer seperti “Freedom” milik Beyoncé, “Paranoid” dari Black Sabbath, dan “Barbie Girl” oleh Aqua yang sangat mirip dengan aslinya. Meskipun sebagian besar orang mungkin dapat membedakan perbedaannya, beberapa versi tersebut bisa saja disangka sebagai variasi alternatif atau B-side ketika didengarkan secara santai. Lebih buruk lagi, mungkin ada pihak yang bisa memonetisasi cover yang menyerupai ini dengan mengunggahnya ke layanan streaming. Suno menolak berkomentar terkait hal ini.

Pembuatan Cover Melalui Suno Studio

Pembuatan cover lagu memerlukan penggunaan Suno Studio, yang tersedia melalui paket Premier Plan seharga $24 per bulan. Alih-alih meminta pengguna untuk membuat keseluruhan lagu dengan teks, Suno Studio memungkinkan pengguna mengunggah lagu untuk diedit atau di-cover. Sistem ini mungkin dapat mendeteksi dan menolak lagu-lagu terkenal tanpa adanya perubahan. Namun, dengan menggunakan alat gratis sederhana seperti Audacity untuk memperlambat lagu menjadi setengah kecepatan atau mempercepatnya dua kali lipat, pengguna sering kali dapat melewati filter tersebut. Menambahkan bunyi putih di awal dan akhir tampaknya juga dapat menjamin keberhasilan melewati filter. Pengguna dapat mengembalikan kecepatan asli dan menghapus bunyi putih di Suno Studio, sehingga lagu yang dilindungi hak cipta menjadi bahan dasar untuk musik AI baru.

Proses Pembuatan Lagu dan Kelemahan Sistem

Jika pengguna menghasilkan cover dari audio yang diimpor tanpa adanya transfer gaya, Suno pada dasarnya hanya menghasilkan aransemen instrumen asli dengan sedikit perubahan pada palet suara jika menggunakan model 4.5 atau 4.5+. Model v5 lebih agresif dalam mengambil kebebasan dengan materi sumber, menambahkan gitar dan piano ke “Freedom” dan mengubah lagu “California Über Alles” dari Dead Kennedys menjadi jigas yang digerakkan oleh biola.

Suno juga memungkinkan pengguna menambahkan vokal dengan menghasilkan lirik atau mengetikkan kata-kata ke dalam kotak. Sekali lagi, sistem ini seharusnya dapat memblokir semua yang dilindungi hak cipta. Jika pengguna menyalin dan menempelkan lirik resmi dari sebuah lagu dari Genius, Suno akan menandainya dan menghasilkan vokal yang tidak berarti. Namun, perubahan yang sangat kecil juga dapat melewati filter ini.

Resiko bagi Artis Indie dan Kualitas Hasil

Saya berhasil membodohi Suno Studio dengan mengubah ejaan beberapa kata dalam “Freedom” — mengubah “rain on this bitter love” menjadi “reign on” dan “tell the sweet I’m new” menjadi “tell the suite” — dan di luar bait pertama dan chorus, saya bahkan tidak perlu melakukan itu. Suara yang dihasilkan sangat mirip dengan rekaman aslinya, menghadirkan versi yang sedikit berbeda dari Ozzy atau Beyoncé.

Artis indie mungkin tidak mendapatkan perlindungan yang sama. Salah satu lagu saya berhasil lolos dari filter hak cipta saat saya menguji model v5 dari perusahaan ini. Saya juga berhasil mendapatkan lagu oleh penyanyi-penulis lagu Matt Wilson, “Car Colors” dari Charles Bissell, dan artis eksperimental Claire Rousay tanpa melakukan perubahan apa pun. Artis di label yang lebih kecil atau yang mendistribusikan sendiri melalui Bandcamp atau layanan seperti DistroKid kemungkinan besar akan terlewatkan; baik DistroKid maupun CD Baby menolak untuk berkomentar.

Kualitas Musik dan Dampaknya

Hasil dari cover AI ini berada di ambang ketidaknyamanan. Lagu-lagu yang mereka cover mudah dikenali: riff dari “Paranoid” tetap dapat dikenali dan “Freedom” jelas merupakan “Freedom” begitu suara snare marching terdengar. Namun, ada nuansa ketiadaan dalam lagu-lagu tersebut. Meskipun suara AI Ozzy terdengar sangat akurat, ia kehilangan nuansa dan dinamika, membuatnya terasa seperti tiruan manusia, bukan yang asli.

Dengan kenyataan ini, Suno menghadapi tantangan besar dalam menjaga integritas hak cipta di era digital ini. Ini menjadi perhatian penting tidak hanya bagi musisi dan pencipta konten, tetapi juga bagi industri musik di Indonesia dan di seluruh dunia.


Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *