Home » Budaya » Video AI Buah Viral: Antara Humor dan Kontroversi Kekerasan

Video AI Buah Viral: Antara Humor dan Kontroversi Kekerasan

Dalam beberapa hari terakhir, akun Instagram bernama FruitvilleGossip telah menarik perhatian publik dengan lebih dari 300.000 tayangan dari serangkaian video berjudul Fruit Paternity Court. Video ini menampilkan karakter buah yang dihasilkan oleh kecerdasan buatan (AI), di mana seorang ibu clementine berhadapan dengan calon ayah, Mr. Mike si mangga. Di tengah ketegangan, Dr. Lime menyampaikan hasil tes DNA kepada hakim, yang menyatakan bahwa Mr. Mike bukanlah sang ayah.

“Entah kenapa saya merasa terlibat dalam kehidupan orang-orang buah ini,” ungkap salah satu komentar dari penonton. Tak hanya dia, banyak yang berharap episode terbaru segera dirilis, “Ayo, episode terakhir segera tayangkan malam ini!”

Tren Video AI Buah: Humor atau Kekerasan?

Di balik kesenangan yang ditawarkan, terdapat tema yang mencolok dalam video-video AI buah ini: karakter perempuan buah sering kali mengalami skenario yang memalukan dan bahkan kekerasan. Dalam banyak video, wanita buah terjebak dalam pengkhianatan terhadap pasangan mereka, sering kali terungkap dan kehilangan segalanya. Bayi buah yang lahir di luar nikah kerap kali berjenis buah yang salah, dan sebagai konsekuensinya, wanita buah tersebut mendapatkan hukuman yang keras—dari dijatuhi hukuman verbal hingga kekerasan fisik.

Beberapa video bahkan menunjukkan tindakan yang menyiratkan kekerasan seksual. Orang tua buah terlibat dalam hubungan seksual dengan teman anak mereka, serta menyalahgunakan anak-anak buah mereka secara verbal. Dalam beberapa adegan, wanita buah dan anak-anak mereka dikejar hiu, dihaluskan dalam blender, dan bahkan direbus hidup-hidup.

Secara aneh, beberapa video juga menghukum karakter perempuan buah hanya karena bersendawa, di mana pria buah sering kali mengusir mereka dari rumah atau bahkan memenjarakan mereka atas tindakan tersebut.

Asal Usul Fenomena Ini

Kreator Fruit Paternity Court, seorang mahasiswa ilmu komputer berusia 20 tahun dari Inggris yang memilih untuk tidak mengungkapkan namanya, menyatakan bahwa narasi-narasi seperti ini sangat populer karena mereka mampu menarik banyak penonton. Menurutnya, cara untuk membuat karakter terlihat menarik dan terlibat dalam adegan yang dramatis dan penuh skandal adalah apa yang diinginkan oleh penonton.

Dia mengungkapkan bahwa ide untuk menciptakan drama buah AI ini berasal dari melihat video serupa yang telah viral. Video tersebut dihasilkan menggunakan generator video AI seperti Google Veo, Kling AI, atau Sora—aplikasi pembuat video dari OpenAI yang baru-baru ini diumumkan akan ditutup.

Kreator tersebut bahkan membagikan prompt yang digunakannya untuk menghasilkan salah satu klip video: “Karakter stroberi antropomorfik dengan ekspresi wajah sassy, mahkota kecil berhiaskan permata di daunnya, kulit merah mengkilap, dengan pose percaya diri.”

Dampak dan Kontroversi

Ironisnya, meski gaya animasi ala Pixar digunakan dalam video ini, kesepakatan Disney dengan OpenAI untuk memperkenalkan karakter-karakter mereka kepada Sora kini sedang dibubarkan. Namun, dalam dunia Fruit Paternity Court, gaya animasi yang disukai banyak orang tetap dipakai untuk menggambarkan wanita buah yang berselingkuh dan menghadapi konsekuensinya. Disney belum memberikan tanggapan terkait fenomena ini.

Akun AI buah terbesar saat ini adalah Ai Cinema, yang memproduksi seri parodi berjudul Fruit Love Island. Dalam waktu sekitar 10 hari, akun ini telah mengumpulkan lebih dari 3,3 juta pengikut di TikTok dan memiliki lebih dari 21 episode dengan lebih dari 200 juta tampilan gabungan.

Kesimpulan

Fenomena video AI buah ini menimbulkan berbagai reaksi dari penonton, mulai dari hiburan hingga kontroversi. Meskipun terkesan humoris, banyak elemen dalam video ini mengandung pesan yang meresahkan. Hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai batas antara hiburan dan representasi yang dapat berpotensi berbahaya di dunia digital saat ini. Apakah kita perlu khawatir dengan pesan yang disampaikan oleh video-video ini, atau ini hanya sekadar hiburan yang tidak serius?


Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *