Morgan Dreiss, seorang editor naskah di Orlando, mengaku memiliki ADHD parah yang membuatnya selalu merasa perlu “melakukan setidaknya tiga hal sekaligus.” Hasilnya? Rata-rata waktu layar harian mencapai 18 jam 55 menit.
“Saya membaca buku atau bermain game hampir dari bangun hingga tidur,” ungkap Dreiss kepada WIRED. Buku yang dibaca berasal dari aplikasi perpustakaan Libby, sehingga jam membaca juga dihitung dalam total keterlibatan layar. Saat ini, Dreiss tidak mengaktifkan fitur pengunci otomatis di ponselnya agar bisa terus menjalankan permainan seluler yang memberikan imbalan $35 untuk setiap 110 jam yang dimainkan. (Dreiss telah mendapatkan sekitar $16 hingga saat ini.)
Dampak Waktu Layar Berlebihan
Selama bertahun-tahun, berbagai studi menunjukkan data yang mengkhawatirkan tentang potensi efek negatif dari waktu layar yang berlebihan terhadap kesehatan fisik dan kognitif. Kekhawatiran mengenai perkembangan neural dan kesehatan mental remaja yang terjebak dalam ponsel mereka telah memicu pertempuran legislatif dan di ruang sidang; baru-baru ini, sebuah juri menemukan Meta dan YouTube bertanggung jawab karena merancang platform mereka dengan fitur adiktif.
Sementara perdebatan apakah seseorang bisa secara klinis “tergantung” pada media sosial masih menjadi topik yang kontroversial, ada konsensus luas di dekade ini bahwa orang sebaiknya mengurangi waktu scrolling. Di sisi yang lebih ekstrem, terdapat komunitas virtual yang berbagi strategi untuk meninggalkan smartphone dan retret detoks digital di mana tidak ada notifikasi yang dapat mengganggu.
Menolak Tren Pengurangan Waktu Layar
Namun, ada juga orang-orang seperti Dreiss yang menolak kebijakan umum tentang pengurangan waktu layar. Mereka bisa disebut “screenmaxxers.” Bukan berarti mereka memiliki konsep total tentang kebiasaan mereka; jurnalis Taylor Lorenz adalah salah satu yang berani mengungkapkan keinginannya untuk mengintegrasikan layar langsung ke dalam kehidupannya, seperti yang baru-baru ini dia katakan kepada WIRED. Bagi mereka, beragam alasan membuat mereka menggunakan perangkat mereka hampir sepanjang waktu, dan tidak melihatnya sebagai masalah sama sekali.
Waktu Layar sebagai Kebutuhan Kerja
Salah satu alasan utamanya adalah pekerjaan. Corina Diaz, 45 tahun, yang tinggal di daerah hutan terpencil di Ontario, Kanada, bekerja di pemasaran video game dan mengelola influencer untuk penerbit game. “Jadi, banyak waktu layar,” ujarnya.
Diaz bertemu suaminya secara online pada tahun 2005 dan memiliki anak tiga tahun yang lalu—waktu layarnya meningkat karena ia terbangun pada jam-jam aneh akibat bayi barunya, ungkapnya.
Kendati demikian, Diaz telah mencari pertemanan secara online sejak tahun 1990-an, ketika itu berarti memanfaatkan alat seperti Internet Relay Chat dan sistem papan pengumuman. “Saya selalu merasa bahwa layar, baik ponsel maupun tidak, menghubungkan saya dengan hal-hal yang saya pedulikan,” katanya. “Terutama grup sosial niche yang tidak memiliki visibilitas di mainstream.” Sekarang, setelah tinggal dua setengah jam dari Toronto, kota besar terdekat, layarnya menjadi “sebuah tali penghubung,” ujarnya.
Hubungan Sosial dalam Era Digital
Daniel Rios berada dalam posisi serupa. Seorang programmer komputer, ia tinggal di negara Amerika Selatan tempat ia dibesarkan setelah tinggal di luar negeri selama bertahun-tahun. Sebagian besar temannya sudah pindah dan tidak kembali.
Akibatnya, Rios tetap berhubungan dengan orang-orang melalui Discord, saluran sosial utamanya. Tidak tinggal di kota, ia jarang keluar rumah, dan layar mengisi harinya—meskipun ia mengatakan “sulit untuk mengukur” berapa banyak jam yang dimaksud. “Ketika saya tidak bekerja di komputer desktop, saya bermain di komputer atau menonton TV,” katanya. “Jika saya tidak di komputer, saya melihat ponsel. Jika saya tidak melakukan salah satu dari itu, dan saya keluar rumah, saya masih mungkin mendengarkan sesuatu di ponsel saya.”
Kesimpulan
Fenomena waktu layar berlebihan menjadi perhatian global, tidak terkecuali di Indonesia. Dalam era digital yang semakin maju, penting bagi kita untuk memahami dampak dari penggunaan perangkat yang berlebihan. Meskipun beberapa orang melihatnya sebagai kebutuhan yang tidak terhindarkan, ada baiknya kita juga mempertimbangkan kesehatan mental dan fisik kita. Mengurangi waktu layar dapat menjadi langkah penting untuk mencapai keseimbangan dalam kehidupan sehari-hari.